Duh..., 250 Arsip Jawa Ada di Inggris
Peter Carey (paling kiri) dan Annabel The Gallop saat menjadi pembicara dalam Khasanah Arsip Yogyakarta yang diselnggrakan oleh Badan Pe...
Tapa Bisu Mubeng Beteng merupakan bagian dari upacara malam satu suro yang tiap tahun dilakukan warga. Berpusat di Kraton Jogja, warga bersama paguyuban dan abdi dalem berkeliling benteng Kraton. Ketika mengelilingi Benteng Kraton, mereka tidak diperbolehkan mengeluarkan suara selain jejak langkah. Upacara ini digelar untuk memeringati pergantian tahun kalender jawa dan islam. Satu suro dalam kalender Jawa dan 1 Muharram dalam islam.
Tarian Srimpi Sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Serimpi sangopati. Kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Ketika Pakubuwono IX memerintah kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1861-1893, beliau berkenaan merubah nama Sangapati menjadi Sangupati.
Penamaan Sangupati sendiri ternyata merupakan salah satu bentuk siasat dalam mengalahkan musuh. Tarian ini sengaja di tarikan sebagai salah satu bentuk politik untuk menggagalkan perjanjian yang akan diadakan dengan pihak Belanda pada masa itu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar pihak keraton tidak perlu melepaskan daerah pesisir pantai utara dan beberapa hutan jati yang ada, jika perjanjian dimaksudkan bisa digagalkan. Tarian Serimpi Sangupati sendiri merupakan tarian yang dilakukan 4 penari wanita dan di tengah-tengah tariannya dengan keempat penari tersebut dengan keahliannya kemudian memberikan minuman keras kepada pihak Belanda dengan memakai gelek minuman. Ternyata taktik yang dipakai sangat efektif, setidaknya bisa mengakibatkan pihak Belanda tidak menyadari kalau dirinya dikelabui.
Gunungkidul, Copyright © 2015 Ken2Rism | One Step Better | Distributed by The Binde