Ken2Rism | One Step Better

Sugeng Rawuh, Pemirsa !


HaLo Pemirsa !

Piye Kabare ? Hopefully Have a Nice Day on You ! Yang lg putus cinta nggak usah dipikir bingit2. Dunia tdk sesempit daun putri malu ( cilik menthik ), happy aja nggih !!! Salam dari Jogja ......

Ken2Rism

Blogger GauL

Kenalan Yuk !

Join To Connect With Me

Portfolio

  • Sabtu (25/10) dini hari, ribuan warga bersama sejumlah paguyuban dan abdi dalem melakukan ritual Mubeng Beteng dalam memeringati pergantian tahun, yang dalam kalender Jawa disebut Satu Suro sedangkan dalam Islam adalah 1 Muharam. Bersama-sama, mereka melakukan ritual Mubeng Beteng, berkidung, dan diakhiri dengan rebutan dua gunungan yang telah disiapkan.

    Upacara ini selalu diperingati tiap tahun di Kraton Jogjakarta. Tiap tahun pula kebudayaan ini dinilai syirik oleh sebagian orang. Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jogjakarta, KRT Kamaludiningrat kembali menegaskan bahwa ritual ini bukan syirik. Sebab, semua yang dilakukan dalam upacara tersebut ditujukkan dan diakhiri permintaan pada Tuhan, bukan pada jin atau lelembut.

    “Ini adalah kegiatan kebudayaan, bukan syirik. Semua yang dilakukan dalam upacara ini beresensi meminta pengampunan pada Tuhan sehingga selama setahun ke depan makin baik. Jadi bukan syirik,” tegasnya, Jumat (24/10) kemarin.

    Ia menambahkan bahwa terdapat makna filosofis yang diambil dari islam dari ritual malam satu suro. Salah satunya adalah mubeng beteng yang dimaknai sebagai hijaah Nabi Muhammad. “Malam 1 Suro, di Kraton, ditandai dengan membacakan kidung pengharapan, baik untuk keluarga Kraton, warga Jogja, dan bangsa Indonesia. Setelah itu dilakukan laku prihatin yaitu ubeng Beteng yang sesuai makna hijrah Nabi,” ujarnya.
  • Tapa Bisu Mubeng Beteng merupakan bagian dari upacara malam satu suro yang tiap tahun dilakukan warga. Berpusat di Kraton Jogja, warga bersama paguyuban dan abdi dalem berkeliling benteng Kraton. Ketika mengelilingi Benteng Kraton, mereka tidak diperbolehkan mengeluarkan suara selain jejak langkah. Upacara ini digelar untuk memeringati pergantian tahun kalender jawa dan islam. Satu suro dalam kalender Jawa dan 1 Muharram dalam islam.

    Dari sejumlah catatan sejarah adanya penggabungan ini dilakukan ketika masa Sultan Agung (1613-1645). Saat itu sebagian rakyat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari kebudayaan Hindu. Sementara itu sebagian lagi mengikuti Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Untuk menghegemoni rakyat Jawa masih kental dengan kebudayaan Hindu menuju islam, kemudian Sultan Agung menggabungkannya dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.

    Sedangkan untuk tradisi lelaku malam satu suro yang jadi bagian dari peringatan 1 Muharram di tanah Jawa terlacak sejak awal abad ke-20, tepatnya pada 1919. Catatan sejarah ini sendiri diceritakan dalam tulisan berjudul Ngibarake Pusaka Dwaja Kanjeng Kiai Tunggul Wulung di Majalah Mekar Sari, Juni 1967.
    Diceritakan bahwa pada 1919 banyak warga yang terserang penyakit influenza.

    Kala itu influenza menjadi penyakit yang menakutkan bagi warga. Rakyat lalu meminta Kraton untuk menggelar upacara (Mubeng Beteng) sebagai langkah untuk mengusir wabah flu di Jogjakarta dengan mengarak bendera pusaka Kraton, Kanjeng Kyai Tunggul Wulung. Bendera pusaka ini sendiri dipercaya mampu menyembuhkan semua penyakit karena konon merupakan bagian dari bungkus Ka’Bah di Makkah yang dibawa Iman Sa’fi atas perintah Sultan Hamengkubuwono I. Bendera pusakan Kanjeng Kyai Tunggul Wulung berbentuk segi empat dengan latar hitam keunguan bergaris tepi kuning. Di tengah-tengah bendera terdapat gambar seperti burung elang bertuliskan rajah dengan huruf Arab.

    Permintaan yang sama terulang pada 1932, 1946, dan 1951. Kala itu giliran wabah pes yang menyerang Jogjakarta.Rakyat kembali meminta Kraton menggelar kirab mengelilingi benteng dengan membawa bendera pusaka. Selanjutnya paska 1950an, Mubeng Beteng dilakukan delapan tahun sekali hingga akhirnya diperingati tiap tahun di masa Orba (Orde Baru).

    Mubeng Beteng dalam Kuasa Orba

    Orba merupakan rezim yang teliti menangkap momen untuk melakukan pelupaan sekaligus pencitraan. Salah satu yang ditangkap Orba, merujuk pada penjelasan John Pamberton dalam On The Subject of Java adalah momen upacara (kebudayaan), dalam hal ini tradisi dan ritual yang bagi orang Jawa punya makna spiritual yang tinggi.  Ini dimulai ketika masyarakat Bali menemukan tulang tanpa kepala di bibir Patai Perancak, bekas pembantaian terduga dan orang-orang PKI.

    Mengetahui hal itu–mengingat Orba rezim yang sensitif dan traumatis–pejabat Orba ketakutan bakal ada ribut-ribut dan orang-orang yang menguak soal pembantaian terduga PKI. Segera pihak Orba mengadakan upacara Nyapuhan, dengan membakar semua tulang-tulang itu berdalih pembersihan musibah yang datang dari Kala.


    Setelah itu pihak Orba mendengungkan perlu dikembangkannya lelaku spiritual di masyarakat. Titah itu pun dilaksanakan oleh para pejabat dengan memasiffkan banyak upacara tradisi yang tentu saja dengan syarat yang dibuat Orba: keteraturan. Mubeng Beteng salah satunya, karena sejak digelar awal abad ke-20, tradisi ini bermakna tentang keselamatan, keteraturan, dan kenyamanan.


  • Bulan Sura bagi masyarakat Jawa terutama Jogja merupakan bulan yang dianggap istimewa. Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa bulan Sura adalah gerbang untuk masuk ke dalam sebuah tatanan yang baru. Untuk memersiapkan diri menyambut sebuah tatanan yang baru masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai Jawa meyakini bahwa perlu melakukan sebuah laku prihatin. Laku prihatin tersebut memiliki tujuan supaya bisa lebih dekat dengan Tuhan YME dan bisa menjalani kehidupan di masa berikutnya dengan baik.
    Berikut ini beberapa hal yang biasa dilakukan masyarakat Jawa saatbulan Sura.

    Mubeng Beteng

    Tradisi Mubeng Beteng biasanya dilakukan di malam pergantian 1 Muharam atau 1 Sura. Biasanya para abdi dalem bersama warga mengelilingi Benteng Kraton Jogja dengan mengirab pusaka berupa bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung. Pusaka Kraton tersebut dipercaya merupakan bagian dari penutup Kabah yang dibawa oleh Iman Safi’i atas perintah Sultan Hamengku Buwono (HB) I.
    Mubeng beteng dengan bendera pusaka Kraton pertama kali dilakukan pada tahun 1919 sebagai sebuah ritus untuk mengusir virus influenza yang mewabah di Jogja.
    Dalam tradisi Mubeng Beteng para lelaku (peserta yang melakukan Mubeng Beteng) tidak boleh mengeluarkan sepatah kata pun. Selain itu para lelaku juga tidak diperbolehkan menggunakan alat penerang sehingga berjalan dalam kondisi gelap.

    Larung Sesaji ke Pantai Selatan

    Tradisi melarung sesaji ke Pantai Selatan atau biasanya dilakukan di Pantai Parangtritis merupakan salah satu hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Larung sesaji di Pantai Selatan dianggap oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai wujud rasa syukur dari rejeki selama setahun yang sudah didapat.
    Acara larung sesaji, diawali dari desa di dekat pantai. Kirab tersebut sambil membawa sesajen yang berisi hasil pertanian yang disusun menjadi gunungan. Gunungan tersebut berisi segala perlengkapannya seperti buah-buahan, kepala kambing,ingkung(ayam panggang utuh), jajanan pasar, dan yang tidak boleh ketinggalan adalah kembang 7 rupa , kemenyan. Sesampainya di laut, semua sesaji itu di lempar 1 per satu dengan disertai doa bersama.

    Jamasan Pusaka

    Upacara jamasan pusaka lazim dilakukan oleh masyarakat Jawa di Bulan Sura. Upacara jamasan adalah sebuah upacara memandikan atau membersihkan pusaka. Pusaka yang dimandikan biasanya berupa keris, tombak dan beberapa senjata lainnya.
    Tujuan jamasan pusaka selain membersihkan pusaka agar tidak berkarat dan cepat rusak juga dipercaya akan mendatangkan keberuntungan karena tuah dari benda pusaka tersebut.

    Kungkum

    Tradisi kungkum biasa dilakukan sebagian masyarakat Jawa dimalam 1 Sura atau Muharam. Kungkum biasanya dilakukan dibeberapa tempat khusus seperti di tempuran Kali Progo, Umbul Pengging maupun di Tugu Suharto. Dalam tradisi Jawa, kungkum memiliki makna membersihkan jiwa dan raga. Tercapainya kondisi jiwa dan raga yang bersih dipercaya bisa membawa peruntungan di masa yang akan datang.
  • Suatu jenis tari klasik dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang diiringi oleh gamelan jawa. Dibawakan oleh 4 penar,  karena kata srimpi adalah sinonim bilangan 4. Hanya saja pada tari Srimpi Renggowati penarinya ada 5 orang. Menurut Dr. Priyono nama serimpi dikaitkan ke akar kata “impi” atau mimpi. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai merupakan ciri khas dari tarian srimpi itu sendiri. Menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang 3/4 hingga 1 jam itu sepertinya orang dibawa ke alam lain, alam mimpi. Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi penari Serimpi melambangkan empat mata angin atau empat unsur dari dunia yaitu :
    1. Grama ( api)
    2. Angin ( Udara)
    3. Toya (air)
    4. Bumi ( Tanah)


    Sejarah Tari Serimpi
    Dahulu Tari Serimpi Yogyakarta diperuntukan hanya untuk masyarakat istana Yogyakarta, dilakukan pada saat menyambut tamu kenegaraan atau tamu agung. Dalam perkembanganya, Tari Serimpi Yogyakarta mengalami perubahan, sebagai penyesuaian terhadap kebutuhan yang ada di dalam masyarakat saat ini. Salah satu penyesuaian yang dilakukan yakni pada segi durasi. Srimpi, versi zaman dahulu dalam setiap penampilannya bisa disajikan selama kurang lebih 1 jam. Sekarang, untuk setiap penampilan di depan umum [menyambut tamu negara], Tari Serimpi Yogyakarta ditarikan dengan durasi kurang lebih 11-15 menit saja dengan menghilangkan gerakan pengulangan dalam Tari Serimpi Yogyakarta.
                Konon, kemunculan tari Serimpi berawal dari masa kejayaan Kerajaan Mataram saat Sultan Agung memerintah antara 1613-1646. Tarian ini dianggap sakral karena hanya dipentaskan dalam lingkungan keraton untuk ritual kenegaraan sampai peringatan naik takhta sultan. Pada 1775 Kerajaan Mataram pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Perpecahan ini juga berimbas pada tarian Serimpi walaupun inti dari tarian masih sama. Tarian Serimpi di Kesultanan Yogyakarta digolongkan menjadi Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, Serimpi Genjung. Sedangkan di Kesultanan Surakarta digolongkan menjadi Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Bondan. Walaupun sudah tercipta sejak lama, tarian ini baru dikenal khalayak banyak sejak 1970-an.
    • Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi penari Serimpi melambangkan empat mata angin atau empat unsur dari dunia, yaitu : Grama (api), Angin (udara), Toya (air), dan Bumi (tanah). Sebagai tari klasik istana di samping bedhaya, tari Serimpi hidup di lingkungan istana Yogyakarta. Serimpi merupakan seni yang adhiluhung serta dianggap pusaka Kraton. Tema yang ditampilkan pada tari Serimpi sebenarnya sama dengan tema pada tari Bedhaya Sanga, yaitu menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dan buruk, antara benar dan salah, antara akal manusia dan nafsu manusia.
    • Tema perang dalam tari Serimpi, menurut RM Wisnu Wardhana, merupakan falsafah hidup ketimuran. Peperangan dalam tari Serimpi merupakan simbolik pertarungan yang tak kunjung habis antara kebaikan dan kejahatan. Bahkan tari Serimpi dalam mengekspresikan gerakan tari perang lebih terlihat jelas karena dilakukan dengan gerakan yang sama dari dua pasang prajurit melawan prajurit yang lain dengan dibantu properti tari berupa senjata. Senjata atau properti tari dalam tari putri antara lain berupa : keris kecil atau cundrik, jebeng, tombak pendek, jemparing dan pistol.
    Karakteristik pada penari Serimpi dikenakannya keris yang diselipkan di depan silang ke kiri, ini mengartikan keris yang digunakan untuk adegan perang, yang merupakan motif karakteristik Tari Serimpi. Disamping keris digunakan pula “jembeng” ialah sebangsa perisak. Adapun pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwana VII dijumpai pula tari Serimpi dengan alat perang pistol yang ditembakkan kearah bawah.
    • Tari Serimpi Sangopati (karya : Sinuhun Pakubuwono IX)

    Tarian Srimpi Sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Serimpi sangopati. Kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Ketika Pakubuwono IX memerintah kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1861-1893, beliau berkenaan merubah nama Sangapati menjadi Sangupati.
    Sesungguhnya sajian tarian Serimpi tersebut tidak hanya dijadikan sebagai sebuah hiburan semata, akan tetapi sesungguhnya sajian tersebut dimaksudkan sebagai bekal bagi kematian Belanda, karena kata sangopati itu berarti bekal untuk mati. Oleh sebab itu pistol-pistol yang dipakai untuk menari sesungguhnya diisi dengan peluru yang sebenarnya. Ini dimaksudkan apabila kegagalan, maka para penaripun telah siap mengorbankan jiwanya. Maka ini tampak jelas dalam pemakaian “sampir” warna putih yang berarti kesucian dan ketulusan.Pakubuwono IX terkenal sebagai raja amat berani dalam menentang pemerintahan Kolonial Belanda sebagai penguasa wilayah Indonesia ketika itu.
    Setelah Pakubuwono IX meninggal 1893 dalam usia 64 tahun beliau digantikan putranya Pakubuwono X atas kehendak Pakubuwono X inilah tarian Srimpi Sangupati yang telah diganti nama oleh ayahanda Pakubuwono IX menjadi srimpi Sangapati , dengan maksud agar semua perbuatan maupun tingkah laku manusia hendaknya selalu ditunjukkan untuk menciptakan dan memelihara keselamatan maupun kesejahteraan bagi kehidupan. Hal ini nampak tercermin dalam makna simbolis dari tarian srimpi sangopati yang sesungguhnya menggambarkan dengan jalan mengalahkan hawa nafsu yang selalu menyertai manusia dan berusaha untuk saling menang menguasai manusia itu sendiri. Salah satu kekayaan Keraton kasunanan Surakarta ini tengah diupayakan konservasinya adalah berbagai jenis tarian yang sering menghiasi dan menjadi hiburan pada berbagai acara yang digelar di lingkungan keraton. Dari berbagai jenis tarian tersebut yang terkenal sampai saat ini adalah tari Serimpi Sangupati.

    Penamaan Sangupati sendiri ternyata merupakan salah satu bentuk siasat dalam mengalahkan musuh. Tarian ini sengaja di tarikan sebagai salah satu bentuk politik untuk menggagalkan perjanjian yang akan diadakan dengan pihak Belanda pada masa itu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar pihak keraton tidak perlu melepaskan daerah pesisir pantai utara dan beberapa hutan jati yang ada, jika perjanjian dimaksudkan bisa digagalkan. Tarian Serimpi Sangupati sendiri merupakan tarian yang dilakukan 4 penari wanita dan di tengah-tengah tariannya dengan keempat penari tersebut dengan keahliannya kemudian memberikan minuman keras kepada pihak Belanda dengan memakai gelek minuman. Ternyata taktik yang dipakai sangat efektif, setidaknya bisa mengakibatkan pihak Belanda tidak menyadari kalau dirinya dikelabui.
    Namun demikian yang perlu digarisbawahi dalam tarian ini adalah keberanian para prajurit puteri tersebut yang dalam hal ini diwakili oleh penari serimpi itu. Karena jika siasat itu tercium oleh Belanda, maka yang akan menjadi tumbal pertama adalah mereka para penari tersebut.
    Saat ini Serimpi Sangupati masih sering ditarikan, namun hanya berfungsi sebagai sebuah tarian hiburan saja. Dan adegan minum arak yang ada dalam tari tersebut masih ada namun hanya dilakukan secara simbol saja, tidak dengan arak yang sesungguhnya.

    Jenis – jenis tari serimpi
    • Tari serimpi sangopati
    Tari Serimpi Yogyakarta ini dimainkan oleh dua orang penari wanita. Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tari Serimpi Yogyakarta ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.
    • Tari Srimpi Anglirmendhung
    Menurut R.T. Warsadiningrat, Anglirmedhung ini digubah oleh K.G.P.A.A.Mangkunagara I. Semula terdiri atas tujuh penari, yang kemudian dipersembahkan kepada Sinuhun Paku Buwana. Tetapi atas kehendak Sinuhun Paku Buwana IV Tari Serimpi Yogyakarta ini dirubah sedikit, menjadi Srimpi yang hanya terdiri atas empat penari saja.
    • Tari Srimpi Ludira Madu
    Tari Srimpi Ludira Madu ini diciptakan oleh Paku Buwono V ketika masih menjadi putra mahkota Keraton Surakarta dengan gelar sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.Tari Serimpi Yogyakarta ini diciptakan untuk mengenang ibunda tercinta yang masih keturunan Madura, yaitu putri Adipati Cakraningrat dari Pamekasan. Ketika sang ibu meninggal dunia, Pakubuwono V masih berusia 1 ½ tahun , dan masih bernama Gusti Raden Mas Sugandi. Jumlah penari dalam tarian ini adalah 4 orang putri. Dalam Tari Serimpi Yogyakarta ini digambarkan sosok seorang ibu yang bijaksana dan cantik seperti jelas dituliskan pada syair lagu Srimpi Ludira Madu. Nama Ludira Madu diambil dari makna Ludira Madura yang berarti “ Darah/ keturunan Madura”.
    • Tari Serimpi Renggawati.
    Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana V. Penari Serimpi Renggawati berjumlah 5 orang. Membawakan cerita petikan dari “Angling Darmo” yang magis, dengan menggunakan tambahan properti sebatang pohon dan seekor burung mliwis putih.
    • Tari Serimpi Cina.
    Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik di Istana Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ada kekhususan pada tari Serimpi cina, yaitu busana para penari menyesuaikan dengan pakaian cina.
    • Tari Serimpi Pistol.
    Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VII. Kekhususan tarian ini terletak pada properti yang digunakan yaitu pistol.
    • Tari Serimpi Padhelori.
    Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VI dan VII. Properti yang digunakan dalam tarian ini berupa pistol dan cundrik. Membawakan cerita petikan dari “Menak”, ialah perang tanding Dewi Sirtu Pelaeli dan dewi Sudarawerti, sebagaimana dikisahkan dalam syair vokalianya. Tari Serimpi Padhelori mempergunakan lagu pengiring utama Gending Pandhelori.
    • Tari Serimpi Merak Kasimpir.
    Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VII. Properti yang digunakan dalam tarian ini berupa pistol dan jemparing. Gending yang dipergunakan untuk mengiringi tari Serimpi Merak Kasimpir adalah Gending Merak Kasimpir.
    • Tari Serimpi Pramugrari.
    Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, merupakan hasil ciptakan Sultan Hamengku Buwana VII. Tarian ini menggunakan properti pistol. Gending yang dipergunakan untuk mengiringi tari Serimpi Pramugrari adalah Gending Pramugrari.
  • Gunungkidul,  
    Ratusan  warga Gunungkidul mengikuti kirab budaya sebagai rangkaian pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Kirab budaya diikuti 18 kecamatan di Gunungkidul dengan start di alun alun Wonosari sampai di bekas Terminal Lama Wonosari.

    “Pelaksanaan kirab budaya ini sebagai rangkaian pembukaan FKY. Seluruh kecamatan menampilkan berbagai macam kesenian dan budaya. Warga berjalan kaki dari alun alun WOnosari menuju Terminal Lama WOnosari, “ kata Ristu Raharjo Koordinator FKY di Gunungkidul.

    Dikatakan, jadwal pelaksanaan FKY dimulai, Rabu (03/09/2014) sampai Selasa (09/09/2014). Jadwalnya untuk Rabu berupa kirab budaya, tari jathil kolosal, gelar sanggar tari dan pentas musik campursari Tedjo Blangkon.

    Pada hari Kamis (04/09/2014) yakni Pentas reog dan jathilan, parade karawitan anak dan wayang kolaborasi pepadi Gunungkidul. “Sementara Jumat (05/09/2014) yakni pentas reog dan jathilan serta parade band. Sedangkan Sabtu (06/09/2014) pentas reog, jathilan dan sanggar tari serta malamnya sendratari Ramayana,”imbuhnya.

    Jadwal Minggu (07/09/2014) meliputi reog, jathilan, sanggar tari dan reog wayang, untuk Senin (08/09/2014) yakni reog jathilan, musik tradisional dan wayang kampung sebelah. Pada hari Selasa (09/09/2014) pentas rog, jathilan, orkes keroncong, upacara penutupan dan ketoprak kolosal.

Comments

The Visitors says